Suara warga di lingkungan PLTU X dan kawasan pertambangan batubara: Studi Photovoice di Desa Z, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan

  • Najmah Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Sriwijaya
  • Iwan Setiabudi Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat,Universitas Sriwijaya
  • Marieska Verawaty Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan IPA, Universitas Sriwijaya
  • Wulandari Dwi Safitri Program Studi Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Sriwijaya
  • Tarisha Kahla Sabitha Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat,Universitas Sriwijaya
  • Sasha Tiara Maharani Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat,Universitas Sriwijaya
  • Ajeng Fathia Nurqanita Dinas Kesehatan Kabupaten Lahat
  • Fakhriyatiningrum Program Studi Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Sriwijaya
  • Jerri Agustan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lahat
  • Sahwan Yayasan Anak Padi
  • Reza Yuliana Yayasan Anak Padi
  • Nila Ertina Media Wong Kito
  • Swara Mega Hasanah Program Studi Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Sriwijaya
  • Mulawarman Dinas Kesehatan Kabupaten Lahat
Kata Kunci: Photovoice, Steam Power Plant, Coal Mining, Environmental Impact

Abstrak

Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan bakar batubara merupakan salah satu sumber energi utama di Indonesia, namun juga menjadi kontributor signifikan terhadap pencemaran lingkungan dan dampak kesehatan masyarakat. Di Kabupaten Lahat kawasan pertambangan batu bara sebagai salah satu bahan bakar PLTU juga tersebar di sekitar PLTU, hal tersebut menambah dampak terhadap kesehatan dan lingkungan. Pengabdian ini bertujuan untuk mengetahui suara atau pandangan peserta pelatihan dasar AMDAL (Analisa Mengenai Dampak Lingkungan) yang tinggal di sekitar kawasan PLTU, khususnya warga Desa Z, terhadap aktivitas pertambangan batu bara yang menjadi sumber utama energi PLTU tersebut. Metode yang digunakan dalam pengabdian ini adalah photovoice yang melibatkan peserta untuk mengambil foto yang mencerminkan pengalaman dan perspektif mereka terkait isu-isu lingkungan terdampak. Peserta pelatihan ini memiliki rentang usia 18-75 tahun yang berjumlah 27 orang. Terdapat 3 tahap inti proses photovoice: pembuatan foto (making photograf), interpretasi kolektif (collective interpretation) dan proses diseminasi dari hasil foto (dissemination). Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar peserta melalui photovoice mengungkapkan keberadaan aktivitas pertambangan dan PLTU memberikan dampak negatif terhadap kualitas lingkungan, seperti pencemaran udara, banyaknya debu di rumah warga akibat aktivitas angkutan batu bara, turunnya produksi panen petani, serta gangguan kesehatan hingga tercemarnya sungai. Temuan ini menegaskan pentingnya pelibatan warga dalam pengelolaan dan pengawasan lingkungan secara partisipatif. Pengabdian ini merekomendasikan perlunya evaluasi lingkungan yang lebih berkelanjutan, serta penguatan kapasitas masyarakat dalam menyuarakan hak atas lingkungan hidup yang sehat.

Diterbitkan
2026-03-30